‎Kepala Sekolah Mengaku Hanya Jadi Penonton: Anggaran Revitalisasi TK Titian Rp770 Juta Diduga Dikuasa’i Oknum Dewan Pesawaran

Lampung,RNN — Program Revitalisasi Satuan Pendidikan bersumber dari APBN Tahun 2026 kembali menyisakan persoalan serius di Kabupaten Pesawaran. Kali ini dugaan ketidakberesan menyangkut pengelolaan dana bantuan di TK Titian, Desa Kota Jawa, Kecamatan Way Khilau, dengan total anggaran mencapai Rp770.070.325,00. Program ini mencakup tiga ruangan yakni, pembangunan Unit Kesehatan Sekolah (UKS), ruang administrasi, serta ruang kelas baru.

‎

‎Berdasarkan informasi yang diperoleh media ini, pelaksanaan program dilakukan dengan mekanisme swakelola. Namun kenyataannya, pihak sekolah justru mengaku tidak memiliki kewenangan dalam pengelolaan anggaran tersebut.

‎

‎Pernyataan Kepala Sekolah

‎

‎Kepala Sekolah TK Titian  inisial MN menyampaikan keterangannya di hadapan awak media dan LSM Penjara indonesia, Menurutnya, pada tahap pertama pencairan dana sebesar Rp500 juta, uang tersebut diambil oleh dua orang  inisial NJ serta HI yang diduga disuruh oleh seorang oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pesawaran berinisial NR.

‎

‎”Setelah uang diambil, kedua orang tersebut langsung pamit pulang. Saya justru dibingungkan dengan keberadaan mereka,” ungkap MN.

‎

‎MN menambahkan, dalam bimbingan teknis (bimtek) yang diikuti, pihak dinas pusat telah menegaskan bahwa pengelolaan dilakukan murni oleh pihak sekolah selaku pelaksana swakelola. “Pihak pusat sudah katakan: kalau ada pihak lain yang mengaku-ngaku berhak mengelola, silakan laporkan. Maka saya bingung, ini kan sudah jelas sistem swakelola. Saya sudah lama mengajukan proposal ini, namun begitu anggaran cair, ada oknum yang mengambil alih. atas dasar dugaan adanya intimidasi seolah menakuti dan tekanan dilakukan oleh oknum dewan inisial NR, saya serahkan semua dana nya tersebut. dan juga saya tidak dilibatkan dalam pengelolaan pelaksanaan pekerjaan hanya jadi penonton saja,” tegasnya.

‎

‎Dugaan Ketidaksesuaian Spesifikasi Teknis

‎

‎Selain masalah pengelolaan dana, MN juga menemukan sejumlah kejanggalan pada kualitas pembangunan yang berlangsung di lokasi.

‎

‎Bahan material: Besi yang awalnya digunakan berukuran terlalu kecil dan baru diganti setelah saya ditegur, Pekerjaan pondasi juga dinilai asal-asalan, tidak digali sesuai kedalaman yang disyaratkan, hanya disusun batu dengan adukan semen, Semen yang digunakan bermerek Rajawali, sementara pasir yang dipakai berkualitas buruk.

‎

‎”Secara jujur, saya tidak menjamin bangunan ini akan bertahan lama. Kualitasnya saja sudah terlihat dari bahan yang digunakan,” ujar Kepala sekolah MN.

‎

‎Sebelumnya upaya LSM PENJARA Indonesia  telah bersurat meminta tanggapan dari pihak-pihak yang diduga terlibat, namun tidak di indahkan, hingga berita ini diturunkan belum diperoleh tanggapan resmi.

‎

‎

‎

‎

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *