

Lampung,RNN – Kisah haru menyentuh hati ribuan warganet setelah beredar sebuah video di media sosial Facebook akun Hikmah Koja, menampilkan perjuangan hidup Ihak, warga Desa Kota Jawa, Kecamatan Way Khilau, Kabupaten Pesawaran. Sebagai seorang tunanetra yang kehilangan penglihatan, Ihak tak menyerah pada keadaan, namun harus berjuang keras demi sesuap nasi bersama anaknya yang masih sangat kecil.
Setiap hari, dengan langkah yang penuh kehati-hatian, Ihak berkeliling dari rumah ke rumah menjajakan sapu lidi buatan sendiri. Di sampingnya selalu ada anak kecil yang harus ikut berpanas-panasan dan berjalan jauh, demi membantu sang ayah yang tak bisa melihat.
Dalam video berdurasi sekitar satu menit yang menyebar luas, terdengar suara tangis anak Ihak saat ditanya oleh pembuat konten. Ketika ditanya mengapa menangis, terungkap kenyataan yang memilukan: anak tersebut belum makan sejak pagi hingga menjelang siang, karena perutnya lapar namun belum ada penghasilan yang cukup untuk membeli makanan.
Sebagai penyandang disabilitas tunanetra, Ihak seharusnya mendapat perhatian dan perlindungan dari negara. Namun kenyataan berkata lain: demi bertahan hidup, ia harus berjuang sendiri membawa anak yang masih membutuhkan kasih sayang dan tempat berteduh, bukan ikut berkeliling menanggung beban hidup yang begitu berat.
Kisah ini langsung memicu rasa prihatin dan empati dari ribuan warganet yang melihatnya. Banyak yang menyampaikan rasa sedih sekaligus mempertanyakan ke mana arah kebijakan perlindungan sosial bagi warga yang benar-benar tak mampu.
“Kita sering mendengar janji-janji keadilan sosial, perlindungan bagi penyandang disabilitas, serta jaminan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Kita sering melihat peresmian proyek pembangunan yang megah, mendengar laporan kemajuan yang penuh angka, dan menyaksikan perayaan keberhasilan yang meriah.
Tapi di sudut desa yang sunyi, ada Ihak yang tak bisa melihat cahaya, namun harus berjalan mencari nafkah membawa anak yang menangis karena lapar sejak pagi. Apakah keadilan itu hanya tertulis di atas kertas saja? Apakah kesejahteraan hanya dirasakan oleh segelintir orang saja?
Saat bapak Ihak yang tak mampu melihat harus memikul beban hidup sendirian dengan seorang anak kecil, di mana peran negara yang katanya hadir untuk rakyat? Di mana jaminan hidup bagi mereka yang lemah dan tak berdaya? Pembangunan yang sejati bukan hanya soal jalan yang mulus dan gedung yang tinggi, tapi memastikan tak ada satu pun warganya yang harus berlutut mencari sesuap nasi, apalagi membawa anak yang masih kecil menanggung kelaparan bersama.”
Berita ini mengingatkan kita semua, bahwa di tengah kemajuan yang sering kita banggakan, masih banyak saudara kita yang berjuang sekadar untuk tetap bertahan hidup. Semoga kisah Ihak bukan hanya menjadi berita yang lewat begitu saja, melainkan membuka mata semua pihak, terutama pemerintah, untuk benar-benar hadir dan merangkul mereka yang membutuhkan.








