Sidoarjo | RMN – Ruwah Desa dengan kegiatan pengajian merupakan bentuk adaptasi tradisi Jawa ke dalam nilai-nilai Islami, di mana prosesi penyucian desa dilakukan melalui pendekatan spiritual agama. Seperti yang dilakukan Hj. Umi Hayati Kepala desa Kendal Sewu, dirinya mengajak warganya untuk memperingati Ruwah desa Dengan pengajian doa bersama dengan menghadirkan KH. Abdul Qodim yang akrab dengan panggilan “Kyai Pocong”, di balai desa Kendal Sewu Rabu,11/2/2026 Malam hari.
Tampak hadir dalam pengajian doa bersama tokoh masyarakat, Alim Ulama, Hadrah, Rebana Al. Hidayah dari Pemuda Desa Kendal Sewu, RT/RW dan ratusan warga desa Kendal Sewu.Hj. Umi Hayati Kades Kendal Sewu menuturkan, bahwa Islam adalah agama dakwah, artinya agama yang mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif menyiarkan agama Islam. Bahkan maju mundurnya umat Islam sangat bergantung pada kegiatan dakwah yang dilakukannya.
“Dakwah bisa dilakukan dengan cara bil-lisan, bil qalam, bil hal dan bisa melalui berbagai forum asalkan tujuannya sama yaitu mengajak untuk menjalankan perintah Allah yang berupa iman serta meneladani para rasul-Nya. Melalui dakwah yang diisi dengan dzikrullah, memuji Rasulullah dengan diiringi musik hadrah maka akan memikat masyarakat khususnya remaja mengikuti aktivitas keagamaan yang dilaksanakan jamaah hadrah”. Tuturnya Hj. Umi Hayati
Masih kata Hj. Umi Hayati, dirinya menambahkan bahwa ruwatan juga mengalami pergeseran atau evolusi makna. Dulu ruwatan identik dengan adanya peristiwa wabah seperti gagal panen dan lain sebaginya, sehingga masyarakat mengadakan acara Ruwatan. Seiring perkembangan zaman, teknologi, ekonomi, sosial, budaya, kebutuhan akan Ruwatan akan mencakup bagaimana kita menyikapi informasi-informasi yang berkembang. Itulah sebabnya, Ruwah di Desa Kendal Sewu kami mengajak masyarakat untuk doa bersama dengan dakwa dari KH. Abdul Qodim yang sering saya panggil “Kyai Pocong”. Tambahnya Hj. Umi Hayati
Saya berharap dengan adanya Ruwah desa ini, membuang perilaku buruk sehingga harapannya ‘sial’ yang ada tersebut dibuang oleh Allah dari diri kita. Sesudah mengajak masyarakat mulai dari anak, cucu menyelami dunia batin orang Jawa dalam menjalani ruwatan sebagai rasa syukur atas anugerah Allah, wujud doa agar dihindarkan dari hal-hal negatif, serta keinginan untuk membersihkan diri dari sifat-sifat buruk, maka Ruwah desa dengan kegiatan pengajian ini, karena ajaran Islam mengajarkan untuk bersyukur, mengajarkan berdoa, dan mengajarkan membersihkan atau memperbaiki diri.” Pungkasnya Hj. Umi Hayati









