Lampung,RNN-Kondisi seorang balita berusia 1 tahun 6 bulan, ARSA AMERTA WIJAYA, menjadi perhatian keluarga setelah hingga kini belum sadarkan diri dan masih menjalani perawatan di RSUD Pesawaran.
Arsa diketahui masuk ke RSUD Pesawaran sejak Jumat sore dalam kondisi kejang yang menurut keterangan keluarga telah berlangsung lebih dari 15 menit. Dalam penanganannya, pasien disebut didiagnosis mengalami bronko dan meningitis.
Hingga saat ini, kondisi Arsa masih membutuhkan pemantauan dan penanganan medis secara intensif. Keluarga menyampaikan bahwa Arsa telah sekitar dua hari belum sadarkan diri.
Di tengah kondisi tersebut, muncul persoalan dalam proses rujukan. Arsa direncanakan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung, khususnya untuk mendapatkan fasilitas perawatan intensif anak atau PICU (Pediatric Intensive Care Unit).
Namun, berdasarkan keterangan keluarga, saat dilakukan konfirmasi mengenai rencana rujukan tersebut, pihak rumah sakit menyampaikan bahwa ruangan PICU dalam kondisi penuh.
Kondisi tersebut membuat keluarga semakin cemas. Sebab, pasien merupakan anak usia 1 tahun 6 bulan yang saat ini belum sadarkan diri dan membutuhkan penanganan lanjutan sesuai kondisi medisnya.
Ayah pasien, Arifin, dan ibu pasien, Grifency Amelia Stevany, berharap adanya perhatian serta bantuan dari pihak terkait untuk mencarikan solusi terbaik bagi anak mereka.
Keluarga berharap apabila ruang PICU di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek memang belum tersedia, dapat dilakukan koordinasi rujukan ke rumah sakit lain yang memiliki fasilitas PICU dan mampu menangani kondisi pasien.
Persoalan ini sekaligus menjadi sorotan terhadap bagaimana mekanisme rujukan pasien anak dalam kondisi membutuhkan perawatan intensif ketika kapasitas PICU di rumah sakit rujukan utama sedang penuh.
Keluarga tentu tidak berharap harus menunggu terlalu lama tanpa kepastian. Mereka berharap ada koordinasi antara RSUD Pesawaran, RSUD Dr. H. Abdul Moeloek, serta fasilitas kesehatan lainnya agar dapat ditemukan alternatif tempat perawatan yang sesuai dengan kebutuhan medis pasien.
“Kami berharap ada jalan keluar. Kondisi anak kami belum sadar dan membutuhkan penanganan lebih lanjut. Kalau memang PICU di Abdul Moeloek penuh, kami berharap bisa dicarikan rumah sakit lain yang memiliki fasilitas yang dibutuhkan,” harap keluarga.
Kondisi tersebut juga penting mendapatkan penjelasan dari pihak RSUD Dr. H. Abdul Moeloek, terutama mengenai ketersediaan ruang PICU, kapasitas tempat tidur, serta mekanisme yang dapat ditempuh apabila terdapat pasien rujukan anak yang membutuhkan perawatan intensif sementara ruang PICU sedang penuh.
Apakah terdapat daftar tunggu, sistem koordinasi antar-rumah sakit, atau alternatif rumah sakit rujukan lainnya yang dapat digunakan untuk pasien dengan kondisi darurat seperti Arsa?
Pertanyaan tersebut penting agar keluarga pasien mendapatkan kepastian dan tidak hanya menghadapi persoalan keterbatasan tempat tidur.
Di sisi lain, pemberitaan ini bukan dimaksudkan untuk menyalahkan tenaga medis maupun pihak rumah sakit. Keterbatasan kapasitas ruang perawatan intensif dapat menjadi persoalan serius dalam pelayanan kesehatan dan membutuhkan koordinasi lintas fasilitas kesehatan.
Namun, dalam kondisi pasien anak yang belum sadarkan diri, keluarga berharap solusi rujukan dapat segera ditemukan.
Hingga berita ini diterbitkan, Arsa masih menjalani perawatan di RSUD Pesawaran.
Keluarga pun berharap perhatian dari Pemerintah Kabupaten Pesawaran, Dinas Kesehatan, pihak RSUD Pesawaran, RSUD Dr. H. Abdul Moeloek, maupun pihak terkait lainnya agar dapat membantu mencarikan alternatif penanganan terbaik bagi Arsa..


