Menyambut 4 Muharram: Refleksi Spiritual dan Filosofi Gerakan LSM Triga Nusantara Indonesia

Oleh: Surachman DPN Kader LSM Triga Nusantara Indonesia

 

Lampung,RNN-Bagi sebagian besar organisasi, hari lahir atau momentum refleksi kerap dirayakan dalam gegap gempita kalender masehi. Namun, bagi kami di LSM Triga Nusantara Indonesia, tibanya tanggal 4 Muharram—atau yang dalam ruang batin masyarakat kita akrab dikenal sebagai tanggal 4 Suro—membawa panggilan spiritual yang jauh lebih menghujam ke akar kesadaran.

Muharram atau Suro bukan sekadar pergantian angka pada kalender Qomariyah. Ia adalah gerbang kontemplasi, waktu di mana semesta mengajak kita untuk surut ke dalam, melakukan mulat sarira (mawas diri), dan menata ulang niat pengabdian.

 

Di tengah riuhnya panggung sosial-politik hari ini, di mana kompetisi antarlembaga sering kali terjebak dalam perebutan panggung dan kritik acapkali berujung pada sikut-sikutan kepentingan, momentum 4 Muharram ini menjadi kompas pengingat bagi kami. Kami memilih jalan sunyi yang berbeda, sebuah laku luhur yang pernah diajarkan oleh pemikir besar Jawa, Ki Ageng Suryomentaram: Kami tidak sedang bersaing dengan siapa pun.

 

Jiwa “Kawruh Begja” di Awal Bulan Suro

Dalam tradisi kita, hari-hari awal di bulan Muharram atau Suro senantiasa diidentikkan dengan laku prihatin dan pembersihan diri.

 

Ki Ageng Suryomentaram melalui filosofi Kawruh Jiwa mengingatkan bahwa konflik, egoisme, dan ketidakpedulian sosial lahir dari jiwa-jiwa yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Banyak gerakan kemasyarakatan hari ini riuh di luar, namun keropos di dalam karena terjebak ego kelompok.

 

Oleh karena itu, menandai momentum 4 Muharram ini, Triga Nusantara Indonesia meletakkan pendalaman diri sebagai fondasi utama gerakan. Sebelum kami melangkah ke lapangan untuk mengawal investasi daerah, mengkritik kebijakan yang timpang, atau mengadvokasi kelestarian lingkungan dari ancaman kerusakan, kami memastikan batin kami telah murni terlebih dahulu.

 

Bagi kami, pendalaman diri di awal bulan Suro ini adalah jangkar. Dengan mawas diri, gerakan advokasi kami tidak akan goyah oleh pujian, tidak akan mundur karena makian, dan bersih dari pamrih egoistis.

 

Kami tidak merasa perlu bersaing untuk terlihat lebih hebat dari lembaga lain; fokus kami adalah memastikan diri kami terus bertumbuh menjadi lebih bermanfaat bagi manusia dan alam.

 

4 Muharram dan Manifestasi “Manunggaling Masyarakat”

 

Jika dalam dimensi spiritualitas Islam-Jawa, bulan Muharram adalah waktu untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, maka dalam dimensi sosial, LSM Triga Nusantara Indonesia menerjemahkannya sebagai Manunggaling Masyarakat—menyatunya jiwa aktivis dengan rakyat.

 

Momentum spiritual ini menegaskan kembali posisi kami. Kami bukanlah “pahlawan” dari luar atau “pengamat” jarak jauh yang berdiri di atas mimbar lalu mendikte apa yang benar dan salah kepada masyarakat. Tidak. Kami adalah bagian organik, darah, dan daging dari masyarakat itu sendiri.

 

Suryomentaram menekankan bahwa manusia akan menemukan ketenteraman sejati (surya mentaraman) ketika ia mampu merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaannya sendiri. Ketika sungai kita tercemar limbah, atau ketika hak-hak masyarakat terabaikan, itu bukan sekadar “kasus hukum” yang kami advokasi demi reputasi organisasi. Itu adalah luka kami sendiri.

 

Sikap manunggaling (menyatunya) kami dengan rakyat inilah yang membuat setiap langkah hukum, surat konfirmasi, hingga aksi moral yang kami lakukan di lapangan tetap memiliki “ruh” keadilan yang hidup, bukan sekadar komoditas politik atau gerakan tanpa arah.

 

Bergerak Tanpa Mengalahkan

Menjadi bagian dari LSM Triga Nusantara Indonesia melalui refleksi 4 Muharram ini adalah tentang merawat kehidupan dan menjaga harmoni nusantara.

 

Ketika sebuah organisasi sudah fokus pada pendalaman diri dan menyatu dengan napas masyarakat, maka ruang untuk bersaing dengan pihak lain otomatis lenyap. Kita tidak punya waktu lagi untuk berebut panggung penokohan.

 

Keberhasilan gerakan swadaya masyarakat tidak diukur dari berapa banyak “lawan” yang berhasil kita jatuhkan, melainkan seberapa banyak masyarakat yang kembali tersenyum karena haknya terpenuhi, dan seberapa lestari lingkungan hidup yang berhasil kita jaga untuk diwariskan ke generasi masa depan.

 

Tanggal 4 Muharram ini adalah momentum bagi Triga Nusantara Indonesia untuk meneguhkan langkah. Bukan untuk menjadi yang tercepat dalam kompetisi sosial, melainkan untuk menjadi yang paling tulus dalam mengabdi.

 

Salam Nusantara. Salam Kesadaran dari Akar Rumput.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *