
TANGGAMUS,RNN– Di tengah gemuruh janji pembangunan dan deretan jargon “merdeka belajar” yang sering diucapkan dengan penuh semangat di panggung-panggung resmi, ada satu realitas pahit yang tak bisa disembunyikan lagi: di Pekon Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, berdiri sebuah sekolah dasar negeri yang lebih mirip gubuk reyot daripada tempat belajar yang layak.
Kamis (30/4), sejumlah kreator konten TikTok, termasuk Bang Taun dan timnya, membuka mata publik terhadap kondisi memprihatinkan ini. Bangunan yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu bagi generasi penerus justru terbuat dari papan kayu yang mulai lapuk dimakan usia, atap yang bocor, dan Tak ada beton, tak ada tembok yang kokoh – hanya kayu yang seolah-olah menahan beban harapan anak-anak yang ingin belajar.
“Kabarnya sekolah ini belum dibangun permanen karena berdiri di atas tanah milik masyarakat. Tapi apakah itu alasan yang cukup untuk membiarkan kondisinya seperti ini?” ujar Bang Taun dalam videonya, pertanyaan yang seharusnya juga terngiang di telinga para pejabat yang duduk di kursi empuk.
Memang, mungkin ada kendala administratif, mungkin jumlah siswanya tidak sebanyak di kota besar. Tapi apakah itu berarti hak mereka atas pendidikan yang layak harus dicabut? Apakah karena mereka tinggal di pelosok, masa depan mereka pun harus “dipelosokkan”?
Di era di mana teknologi sudah merambah ke mana-mana, di mana gedung-gedung megah berdiri kokoh di pusat pemerintahan, masih ada anak-anak yang harus belajar di bawah atap yang bisa roboh kapan saja. Di saat yang sama, pemerintah seolah-olah sibuk dengan program-program yang terlihat bagus di atas kertas, tapi nyatanya tak sampai menyentuh akar masalah.
Bahkan, kabarnya kondisi ini sudah berlangsung lama. Baru setelah viral di media sosial, baru ada perhatian. Pertanyaannya: apakah pendidikan di daerah ini hanya akan diperhatikan kalau sudah jadi bahan konten? Apakah pemerintah butuh “tekanan publik” baru mau bergerak, padahal tugas mereka adalah melayani rakyat, bukan menunggu disuruh?
Masyarakat berharap, fasilitas pendidikan yang layak bukanlah kemewahan, melainkan hak dasar. Di zaman sekarang, mana ada lagi sekolah yang terbuat dari kayu? Kalau pun ada, itu seharusnya menjadi sejarah, bukan realitas yang masih terjadi di tahun 2026.
Sorotan dari para kreator konten ini bukan sekadar untuk membuat berita, tapi untuk membuka mata semua pihak – terutama pemerintah – bahwa ketimpangan masih ada, dan tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pihak lain memang diperlukan, tapi yang paling utama adalah niat dan tindakan nyata dari yang berwenang.
Jangan biarkan masa depan anak-anak Tanjung Raja hancur bersama bangunan kayu yang mereka sebut sekolah. Jangan biarkan janji-janji manis hanya menjadi angin lalu. Karena pendidikan yang baik bukan hanya untuk mereka yang tinggal di kota, tapi juga untuk mereka yang berada di pelosok negeri ini.(red).
berita ini dibuat berdasarkan informasi yang diterima dan bertujuan untuk menyuarakan keprihatinan publik terhadap kondisi pendidikan di daerah tersebut.




