Sidoarjo | RNN – Berawal dari dasar pelaporan ke bupati Sidoarjo H. Subandi, S.H., M.Kn. adanya adanya pasar Minggu yang berdiri diakses jalan umum yang dirasa mengganggu warga Perumtas III. Warga desa Popoh beserta Widi Suprianto Ketua Panitia adat desa Popoh yang mengelola pasar Minggu, Eko Imam Setiono Asisten 1 Bupati LSM LIRA, beserta warga Perumtas III Koordinasi di Kantor Kecamatan Wonoayu dihadiri oleh Pemdes desa Popoh, Pemdes desa Grabagan, Camat Tulangan Moch. Andi Sulistiono, S.STP., M.S, Camat Wonoayu Drs. Anis Anwar melalui surat pernyataan berakhir dengan sepakat dan mufakat damai.
Dalam koordinasi tersebut Junaidi Ketua RW. 08 menyampaikan dengan bersurat ke bupati Sidoarjo H. Subandi, S.H., M.Kn. memohon solusi adanya kegiatan pasar Minggu yang menghambat jalannya keluar masuk warga Perumtas III. Junaidi menyampaikan dalam koordinasi untuk bisa mendapatkan solusi agar tidak merugikan warga Perumtas III.

Diwaktu berbeda Widi Suprianto Ketua Panitia adat desa Popoh juga pengurus pasar Minggu menyampaikan, bahwa dirinya sadar adanya kemacetan lalu lintas (lalin) dijalan tersebut sebelumnya sudah ada kesepakatan para pihak dengan pihak desa Grabagan, dirinya mengungkapkan kalau adanya kemacetan jalan dari arah selatan bisa kebarat, dan kalau dari arah Utara ke selatan bisa langsung lewat.
“Adanya pasar Minggu ini sudah berjalan lama, dan kalau membahas wilayah, warga dan tokoh masyarakat desa Popoh sangat paham sejarahnya. Jangan sampai adanya pertemuan ini kembali sejarah, tambah tidak bisa menyelesaikan masalah ini”. Ungkapnya Widi Suprianto selaku ketua adat yang mewakili warga desa Popoh.
Disisi lain, lanjut Widi, wilayah Perumtas III juga ada yang jualan saya meminta agar bisa mengurus wilayah masing-masing, diwilayah desa Popoh biar kita yang menyelesaikan adanya kemacetan dan sebaliknya di Perumtas III sendiri. Kalau masalah jalan kabupaten diwilayah desa Popoh kami sepakat dari arah Utara ke selatan bisa jalan, dan dari selatan kita alihkan kebarat, dan kita minta waktunya pak camat, nanti akan kita relokasi pedagang yang berjualan di sepanjang jalan wilayah desa Popoh, kita relokasi di kebon jati.
“Kenapa adanya pasar Minggu ataupun yang berjualan di sepanjang jalan tersebut kita akan relokasi atau kita alihkan ke alas jati, karena kita bersama warga desa Popoh sepakat swadaya dengan menyewa alas jati milik BUMN PT. Perkebunan Nusantara (PTPN Group)”. Tambahnya Widi Suprianto di kantor saat koordinasi.
Foto : Widi Suprianto Ketua Adat desa Popoh koordinasi dengan Kepala desa Popoh Sugini di kantor desa Popoh. Rabu (24/06/26)
Dengan adanya pasar tersebut, kontribusi dari Pedagang Kaki Lima (PKL) tidak hanya panitia pasar atau golongan pribadi, tetapi untuk masyarakat desa Popoh.
“Dari kontribusi tersebut, kita salurkan untuk rumah dusun, gelar acara 17 Agustus, untuk bantuan warga yang meninggal, juga untuk warga yang sakit khususnya yang tidak mampu.”. Kata Widi
Nantinya kita juga mempunyai program seperti yang diinginkan pak camat Wonoayu untuk menjaga kebersihan, dan nantinya kita selaku pengurus akan membuat destinasi wisata di wilayah desa Popoh.” Pungkasnya Widi Suprianto.
Sepakat tercapai Camat Tulangan Andi Sulistiono, S.STP., M.S, berpesan dengan kesepakatan tersebut harus ada pernyataan biar tidak terulang kejadian tersebut, pesan saya semua untuk kepentingan umum.
Diwaktu berbeda Camat Wonoayu Drs. Anis Anwar juga menyampaikan semua bisa dibicarakan kalau dibuat salah yaa salah semua tapi dengan adanya pasar tersebut bisa dibuat untuk kepentingan bersama, saya berterima kasih kepada warga Grabagan semua bisa menerima dan menyepakati pernyataan dan kesepakatan pernyataan diketahui oleh pak camat Tulangan dan saya sendiri bersama kades Popoh, dan PLT. Kades Grabagan,” pungkasnya Drs. Anis Anwar.







